Angelvissionnews.com | Bogor – Pidato seorang kiai dari Pondok Modern Darussalam Gontor di hadapan Presiden Prabowo Subianto menjadi perhatian. Dalam kesempatan tersebut, sang kiai menyampaikan sejumlah pesan mengenai pendidikan, integritas, serta pentingnya membangun manusia yang tidak sekadar mengejar pengakuan formal.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ketika ia menyinggung fenomena “pencari ijazah”. Menurutnya, pendidikan semestinya tidak berhenti pada persoalan mendapatkan selembar ijazah, melainkan harus membentuk karakter, ilmu, dan tanggung jawab seseorang.
“Jangan sampai pendidikan hanya melahirkan pencari ijazah. Yang kita cari adalah manusia yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.”
Pesan tersebut disampaikan dalam konteks pentingnya pendidikan sebagai proses pembentukan manusia. Ijazah, dalam pandangan yang disampaikan sang kiai, merupakan salah satu bukti formal pendidikan, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.
Menyinggung Mentalitas dan Integritas
Dalam pidatonya, sang kiai juga mengingatkan bahwa bangsa membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki integritas. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang-orang yang pintar secara akademis, tetapi juga harus membentuk pribadi yang memiliki tanggung jawab moral.
Ia menekankan pentingnya kejujuran dan keberanian untuk memegang prinsip, termasuk ketika seseorang berada dalam posisi yang memiliki kekuasaan dan tanggung jawab besar.
Pesan itu menjadi relevan ketika disampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan para tokoh yang hadir dalam acara tersebut.
“Sorry Yee” Jadi Bagian yang Mencuri Perhatian
Selain substansi mengenai pendidikan dan pencari ijazah, ada pula bagian pidato yang disampaikan dengan gaya yang lebih ringan. Ungkapan “sorry yee” menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian karena disampaikan secara spontan dan khas.
Ungkapan tersebut mencairkan suasana sekaligus menunjukkan gaya komunikasi sang kiai yang dapat menyampaikan pesan serius dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan pendengar.
Di balik ungkapan tersebut, pesan yang dibawa tetap berkaitan dengan pentingnya keberanian menyampaikan kebenaran dan tidak menjadikan jabatan maupun status sebagai alasan untuk mengabaikan prinsip.
Pendidikan Bukan Sekadar Gelar
Pidato tersebut pada akhirnya membawa satu pesan utama: pendidikan harus menghasilkan manusia yang memiliki ilmu, karakter, dan kontribusi nyata.
Gelar dan ijazah dapat menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, tetapi kualitas seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh dokumen yang dimilikinya.
Bagi lembaga pendidikan seperti Gontor, pendidikan juga berkaitan dengan pembentukan mental, kedisiplinan, kemandirian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pesan sang kiai di hadapan Prabowo tersebut pun dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki gelar akademik, tetapi juga manusia yang memiliki integritas dan kesediaan untuk mengabdi.
“Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan bangsa bukan sekadar orang yang memiliki ijazah, tetapi orang yang memiliki ilmu dan mampu mempertanggungjawabkan ilmunya.”
Redaksi














