Angelvissionnews.com | YAMAN – Situasi keamanan di Yaman kembali memanas setelah pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali meningkat. Eskalasi terbaru dilaporkan menewaskan puluhan orang dalam bentrokan yang berlangsung di sejumlah wilayah pada pertengahan September 2026.
Menurut sumber militer dari kedua pihak yang dikutip AFP, sedikitnya 63 orang tewas dalam 24 jam akibat pertempuran terbaru. Dari jumlah tersebut, seorang pejabat pemerintah Yaman menyebut sedikitnya 23 tentara pemerintah tewas akibat serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) Houthi di dua provinsi di wilayah barat daya.
Sementara itu, sumber militer Houthi melaporkan 40 pejuangnya tewas akibat serangan udara Saudi dan pertempuran darat. Laporan lain menyebut total korban mencapai 68 orang, sehingga angka korban masih berbeda berdasarkan sumber dan waktu penghitungan.
Serangan Meluas ke Wilayah Arab Saudi
Eskalasi konflik juga berdampak hingga wilayah Arab Saudi. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi melaporkan jatuhnya pecahan dari sebuah drone yang berhasil dicegat di wilayah Taif.
Insiden tersebut menyebabkan satu orang tewas dan dua lainnya terluka, serta menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan kendaraan. Korban meninggal dilaporkan merupakan warga negara Yaman yang tinggal di Arab Saudi.
Selain itu, serangan udara koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan menyasar sejumlah lokasi di Yaman.
Media yang dikelola Houthi, Almasirah, melaporkan adanya serangan terhadap tiga menara telekomunikasi di Provinsi Taiz. Media tersebut juga melaporkan satu warga sipil tewas dalam serangan di wilayah Abs. Klaim mengenai korban dan lokasi serangan tersebut berasal dari pihak Houthi dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Pertempuran juga dilaporkan terjadi di wilayah Al Jawf serta sepanjang kawasan pesisir Laut Merah. Houthi mengklaim melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, sementara pihak Saudi melaporkan sejumlah serangan berhasil dicegat.
Houthi Bertemu Pejabat AS di Muscat
Di tengah meningkatnya pertempuran, perwakilan Houthi dilaporkan melakukan pertemuan tertutup dengan pejabat Amerika Serikat di Kedutaan Besar AS di Muscat, Oman, pada akhir pekan sebelumnya.
Reuters melaporkan pertemuan tersebut berdasarkan keterangan lima sumber yang mengetahui masalah tersebut. Tiga sumber menyebut pertemuan berlangsung di Kedutaan Besar AS di Muscat, sementara dua sumber mengatakan pemerintah Oman turut membantu memfasilitasi pertemuan.
Delegasi Houthi disebut mencakup pejabat senior Mohammad Abdulsalam dan Abdelmalik al-Ajiri. Sementara dari pihak Amerika Serikat, pertemuan tersebut dihadiri oleh personel Kedutaan Besar AS di Muscat.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Laut Merah serta perkembangan konflik antara Houthi dan pasukan yang didukung Arab Saudi.
Menurut sejumlah sumber yang dikutip Reuters, dalam pertemuan tersebut pihak Houthi menyampaikan komitmen terhadap gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan mengatakan tidak berniat menyerang kapal Amerika.
Salah satu sumber juga menyebut Houthi menyatakan tidak akan menyerang kapal Israel maupun kapal komersial lainnya, dengan pengecualian kapal yang terkait dengan Arab Saudi.
Oman Berperan sebagai Mediator
Pertemuan di Muscat berlangsung dengan latar belakang peran Oman sebagai mediator dalam berbagai proses diplomasi terkait konflik Yaman.
Pemerintah Amerika Serikat sendiri tidak secara terbuka mengonfirmasi pertemuan tersebut. Namun, Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa keamanan pelayaran dan kebebasan navigasi di Laut Merah merupakan kepentingan penting Washington.
Situasi di Yaman kini berkembang di dua jalur sekaligus: eskalasi militer di lapangan dan upaya diplomatik di balik meja perundingan.
Sementara pertempuran antara Houthi, pasukan pemerintah Yaman, dan pihak yang didukung Arab Saudi terus berlangsung, komunikasi melalui jalur Oman menunjukkan masih adanya ruang diplomasi untuk membahas gencatan senjata serta keamanan jalur pelayaran di kawasan Laut Merah.
Jurnalis/Ajat Ardiansyah













