Angelvissionnews.com | Purwakarta – Kebutuhan air dalam jumlah besar untuk operasional pusat data berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) milik BDx di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Fasilitas data center tersebut diperkirakan membutuhkan pasokan air sekitar 384 hingga 400 liter per detik. Angka tersebut setara dengan sekitar 33 juta liter air per hari apabila kebutuhan 384 liter per detik digunakan secara kontinu.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mempertanyakan ketersediaan air baku dari Jatiluhur di tengah rencana pemenuhan kebutuhan air untuk operasional data center tersebut.
Pertanyaan itu disampaikan Dedi dalam dialog bersama Direktur Utama Jasa Tirta II Imam Santoso dan pihak PDAM Purwakarta. Dedi meminta penjelasan mengenai besaran alokasi air baku untuk Kabupaten Purwakarta serta dampak penggunaan air oleh data center terhadap ketersediaan air di Waduk Jatiluhur.
Direktur Utama Jasa Tirta II Imam Santoso menjelaskan bahwa alokasi air baku untuk Kabupaten Purwakarta mencapai sekitar 3.000 liter per detik, atau setara 3 meter kubik per detik.
Sementara itu, pemakaian saat ini disebut masih berada di kisaran 300–380 liter per detik. Dengan demikian, masih terdapat bagian dari alokasi tersebut yang belum dimanfaatkan.
Dalam penjelasan yang disampaikan kepada Dedi, kebutuhan air BDx sekitar 384–400 liter per detik dinilai masih dapat dipenuhi melalui alokasi air baku untuk Purwakarta yang dikelola melalui PDAM.
Ketika Dedi mempertanyakan apakah kebutuhan data center tersebut akan membuat air Jatiluhur terkuras, pihak Jasa Tirta II menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut telah diperhitungkan dalam alokasi air baku.
“Karena sudah dialokasikan, rencana alokasinya 3.000 liter per detik untuk Purwakarta, jadi tidak akan terkuras,” demikian penjelasan yang disampaikan dalam dialog tersebut.
Masih Ada Sisa Alokasi
Dari perhitungan tersebut, kebutuhan air BDx disebut akan menggunakan bagian dari alokasi yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Jika pemakaian PDAM berada di sekitar 380 liter per detik dan ditambah kebutuhan BDx sekitar 400 liter per detik, total pemanfaatan menjadi sekitar 780 liter per detik. Angka tersebut setara dengan sekitar 26 persen dari alokasi 3.000 liter per detik.
Dalam pembahasan yang dikutip sejumlah media, pemanfaatan alokasi air setelah masuknya kebutuhan BDx disebut berada di kisaran 24–25 persen, sehingga masih terdapat sekitar 75 persen alokasi yang belum digunakan. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan angka pemakaian eksisting yang digunakan dalam masing-masing perhitungan.
Dedi sebelumnya juga menyampaikan bahwa PDAM Purwakarta memiliki alokasi sekitar 3.000 liter per detik dari Jatiluhur. Namun, pemanfaatannya belum maksimal karena kondisi infrastruktur dan jaringan distribusi yang membutuhkan penguatan.
Menurut Dedi, masuknya kebutuhan air dari BDx berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi PDAM Purwakarta. Pendapatan tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat infrastruktur pelayanan air bersih yang membutuhkan investasi besar.
Dedi menyebut kebutuhan penguatan infrastruktur PDAM nilainya hampir Rp750 miliar.
Data Center Berkapasitas Hingga 640 MW
Data center BDx di kawasan Jatiluhur merupakan proyek investasi yang nilainya disebut sekitar Rp3,5 triliun.
Pada tahap awal, fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 120 megawatt (MW), dengan rencana pengembangan hingga mencapai 640 MW.
Kebutuhan air yang besar menjadi salah satu perhatian karena pusat data membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga temperatur perangkat dan server yang beroperasi secara terus-menerus.
Selain persoalan kebutuhan air, pembangunan proyek tersebut juga mendapat sorotan terkait kelengkapan perizinan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan pembangunan dihentikan sementara sampai sejumlah persyaratan, termasuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), diselesaikan.
Kebutuhan Masyarakat Tetap Jadi Perhatian
Besarnya kebutuhan air data center membuat aspek ketersediaan air baku dan pelayanan masyarakat menjadi bagian penting dalam pembahasan proyek tersebut.
Pihak yang menjelaskan ketersediaan air menekankan bahwa kebutuhan BDx ditempatkan dalam alokasi air baku Kabupaten Purwakarta yang telah tersedia, bukan mengambil alokasi baru di luar kuota tersebut.
Sementara itu, Dedi meminta persoalan sumber dan ketersediaan air dijelaskan oleh pihak yang memiliki kewenangan serta data teknis mengenai pengelolaan sumber daya air.
Ia juga menjelaskan bahwa kebutuhan air untuk pertanian di Purwakarta tidak secara langsung bergantung pada aliran Waduk Jatiluhur. Menurut Dedi, aliran Jatiluhur mengarah ke sejumlah wilayah lain, termasuk Karawang, Bekasi, Subang hingga Indramayu.
Dengan kebutuhan air mencapai ratusan liter per detik, keberlanjutan pasokan menjadi salah satu aspek yang perlu terus dipastikan bersamaan dengan penyelesaian aspek lingkungan dan perizinan proyek.
Polemik mengenai data center BDx pun kini tidak hanya berkaitan dengan investasi dan pengembangan teknologi AI, tetapi juga menyangkut tata kelola air, kapasitas infrastruktur PDAM, serta kepastian bahwa kebutuhan industri dapat berjalan tanpa mengganggu pelayanan air bagi masyarakat.
Redaksi














