Angelvissionnews.com | BEKASI — Proyek normalisasi sungai di kawasan Jababeka, Kampung Kepuh, Desa Mekarmukti, Kabupaten Bekasi, menuai keluhan warga. Sejumlah rumah warga dilaporkan mengalami keretakan bangunan dan pergeseran tanah yang diduga terjadi akibat getaran alat berat yang digunakan dalam aktivitas pekerjaan proyek.
Kondisi tersebut membuat warga resah. Selain dinding dan bagian rumah yang mengalami retak, tanah di sekitar permukiman juga dilaporkan mengalami keretakan dan pergeseran. Warga khawatir kerusakan tersebut dapat semakin parah apabila tidak segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan.
Warga menyebut aktivitas alat berat yang bekerja di sekitar lokasi menimbulkan getaran cukup kuat. Setelah aktivitas pekerjaan berlangsung, warga menemukan adanya keretakan pada rumah maupun tanah di sekitar bangunan.
Akibat kondisi tersebut, warga mengaku mengalami kerugian materil. Mereka juga mempertanyakan siapa yang harus bertanggung jawab apabila kerusakan bangunan dan tanah tersebut memang terbukti berkaitan dengan aktivitas proyek normalisasi sungai.
Warga Kecewa, Kontraktor Belum Menemui Korban
Di tengah kekhawatiran tersebut, warga mengaku hingga saat ini belum mendapatkan tanggapan maupun kunjungan dari pihak kontraktor untuk melihat secara langsung kondisi rumah dan tanah yang mengalami kerusakan.
Warga menilai persoalan tersebut tidak seharusnya dibiarkan. Mereka meminta pihak kontraktor segera turun ke lapangan dan melakukan pemeriksaan terhadap rumah-rumah warga yang terdampak.
Warga juga meminta adanya pendataan dan dokumentasi terhadap seluruh kerusakan sehingga kondisi sebelum dan sesudah pekerjaan dapat dibandingkan secara objektif.
Tuntutan Warga: Jangan Tunggu Kerusakan Semakin Parah
Warga Kp. Kepuh menuntut agar pihak kontraktor bertanggung jawab terhadap kerusakan rumah dan tanah apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya hubungan dengan pekerjaan proyek.
Mereka meminta penyelesaian dilakukan sebelum kondisi semakin parah di kemudian hari.
“Kami tidak ingin menunggu sampai kerusakan semakin besar. Rumah sudah retak, tanah juga mengalami pergeseran. Kami meminta pihak kontraktor datang melihat langsung dan memberikan penyelesaian,” ujar warga.
Warga berharap kontraktor tidak hanya menyelesaikan pekerjaan proyek, tetapi juga memperhatikan dampak yang kemungkinan timbul terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Instansi Terkait Diminta Turun Tangan
Warga juga meminta pemerintah daerah dan instansi teknis terkait untuk turun ke lokasi guna memastikan kondisi sebenarnya.
Pemeriksaan independen dinilai penting untuk mengetahui apakah keretakan rumah dan pergeseran tanah tersebut berkaitan dengan getaran alat berat atau faktor lain. Pemeriksaan juga diperlukan untuk memastikan keselamatan warga serta mencegah potensi kerusakan yang lebih besar.
Persoalan ini diharapkan tidak berhenti pada saling klaim antara warga dan pelaksana proyek. Jika ditemukan bukti bahwa pekerjaan proyek menjadi penyebab kerusakan, warga meminta hak mereka untuk mendapatkan pertanggungjawaban dan pemulihan kerugian dipenuhi.
Sebaliknya, jika terdapat faktor lain yang menyebabkan kerusakan, warga juga berhak mendapatkan penjelasan yang jelas berdasarkan hasil pemeriksaan teknis.
Hingga berita ini dibuat, pihak kontraktor belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga maupun dugaan kerusakan rumah dan pergeseran tanah tersebut.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak kontraktor, pengelola kawasan Jababeka, serta instansi terkait untuk memberikan penjelasan mengenai proyek normalisasi sungai, metode pekerjaan, penggunaan alat berat, serta langkah penanganan terhadap keluhan warga.
Warga berharap persoalan ini segera mendapat perhatian serius sebelum keretakan rumah dan pergeseran tanah berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar dan membahayakan keselamatan penghuni.
Redaksi















