Angelvissionnews.com | Jakarta – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang meningkat pada Minggu, 6 September 2026, berdampak langsung terhadap operasional penerbangan. Sebaran abu vulkanik terdeteksi di sejumlah wilayah dan mendorong otoritas penerbangan melakukan penutupan sementara sejumlah bandar udara demi menjaga keselamatan penerbangan.
Berdasarkan pembaruan informasi dari InJourney Airports dan NOTAM AirNav Indonesia, tiga bandara utama yang terdampak dan ditutup sementara adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta), dan Bandara Radin Inten II (Lampung).
SOETTA DITUTUP HINGGA 13.30 WIB
Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi salah satu bandara yang terdampak paling signifikan.
Penutupan awal dilakukan setelah pemeriksaan paper test pada Minggu dini hari menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di kawasan bandara. Operasional yang sebelumnya dihentikan pukul 01.30–05.30 WIB kemudian mengalami beberapa kali pembaruan sesuai kondisi abu vulkanik dan penerbitan NOTAM terbaru.
Dalam pembaruan terbaru yang dilaporkan InJourney Airports, status aerodrome closed di Bandara Soekarno-Hatta ditetapkan hingga 13.30 WIB.
Dampak terhadap penerbangan juga cukup besar. Data monitoring sebelumnya mencatat 33 penerbangan terdampak, terdiri dari pembatalan, penundaan, penjadwalan ulang, serta pengalihan penerbangan domestik maupun internasiona.
HALIM PERDANAKUSUMA TURUT DITUTUP
Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta juga mengalami penghentian sementara operasional akibat indikasi sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.
Penutupan tersebut dilakukan berdasarkan NOTAM yang diterbitkan AirNav Indonesia. Dalam pembaruan terbaru, masa penutupan Bandara Halim diperpanjang hingga sekitar 14.00 WIB, mengikuti perkembangan kondisi abu vulkanik dan pertimbangan keselamatan penerbangan.
RADIN INTEN II LAMPUNG TERDAMPAK
Dampak sebaran abu vulkanik juga meluas hingga wilayah Lampung. Bandara Radin Inten II mengalami penghentian sementara operasional penerbangan.
Penutupan tersebut dilakukan berdasarkan NOTAM AirNav dan kemudian diperpanjang. Berdasarkan pembaruan terbaru, operasional bandara tersebut diperkirakan kembali dibuka sekitar 14.00 WIB, dengan tetap menyesuaikan kondisi sebaran abu vulkanik.
ABU VULKANIK MENYEBAR KE SEJUMLAH WILAYAH
BMKG menyatakan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dilakukan secara intensif selama 24 jam. Berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu pagi, terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
BMKG juga melaporkan sebaran abu pada ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur hingga selatan, sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi dunia penerbangan karena keberadaan abu vulkanik di ruang udara dapat mengganggu keselamatan operasi pesawat.
KESELAMATAN PENERBANGAN MENJADI PRIORITAS
Penutupan sementara bandara bukan semata-mata karena kondisi di landasan, tetapi merupakan bagian dari langkah mitigasi terhadap potensi bahaya abu vulkanik bagi penerbangan.
BMKG, AirNav Indonesia, Kementerian Perhubungan, otoritas bandar udara, pengelola bandara, serta pihak terkait lainnya terus melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan situasi. BMKG juga menerbitkan SIGMET sebagai peringatan meteorologi penting bagi penerbangan dan terus memperbaruinya mengikuti pergerakan abu vulkanik.
PENUMPANG DIMINTA CEK STATUS PENERBANGAN
Dengan kondisi yang masih dinamis, calon penumpang diminta tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan sebelumnya.
Pengguna jasa penerbangan disarankan memeriksa kembali status penerbangan melalui kanal resmi maskapai, serta mengikuti informasi terbaru dari pengelola bandara sebelum menuju bandara.
Perubahan waktu penutupan maupun pembukaan kembali bandara dapat dilakukan berdasarkan hasil pemantauan terbaru terhadap sebaran abu vulkanik dan aspek keselamatan penerbangan.
Redaksi














