Angelvissionnews.com | Selat Sunda – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menjadi perhatian. Aktivitas erupsi gunung api tersebut terekam dalam video yang diambil oleh seorang nelayan pada Sabtu, 5 September 2026 siang.
Rekaman tersebut memperlihatkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dari arah perairan Selat Sunda. Video kemudian beredar dan menarik perhatian masyarakat karena menunjukkan adanya aktivitas vulkanik di kawasan gunung api yang selama beberapa waktu terakhir kembali mengalami peningkatan aktivitas.
Berdasarkan laporan pemantauan yang dihimpun, aktivitas Gunung Anak Krakatau memang masih menunjukkan kegempaan dan erupsi berulang. Pada Jumat, 4 September 2026, tercatat beberapa kali erupsi.
Tiga erupsi pertama pada 4 September tercatat melalui seismograf masing-masing sekitar pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB, dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter. Selanjutnya, pada pukul 05.46 WIB, terjadi erupsi yang teramati secara visual dengan kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak dan bergerak ke arah barat serta barat laut.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa proses vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Petugas pemantauan juga mengingatkan bahwa tidak seluruh erupsi dapat terlihat secara kasatmata karena sebagian aktivitas hanya terekam melalui instrumen seismograf.
STATUS GUNUNG ANAK KRAKATAU
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda dan secara administratif termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Badan Geologi sebelumnya menaikkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Dalam rekomendasi tersebut, masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya erupsi, termasuk lontaran material vulkanik, lava, awan panas, dan hujan abu lebat.
NELAYAN DIMINTA TETAP WASPADA
Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik, masyarakat yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda, khususnya nelayan, diimbau untuk memperhatikan perkembangan informasi resmi dari pihak berwenang.
Rekaman video dari masyarakat atau nelayan juga perlu dilihat secara hati-hati dan tidak langsung disimpulkan sebagai indikator peningkatan status gunung api sebelum dikonfirmasi oleh lembaga terkait.
Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung juga diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi terkait perkembangan Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui Badan Geologi, PVMBG dan MAGMA Indonesia.
SEJARAH ERUPSI DAN TSUNAMI
Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang panjang. Peristiwa erupsi besar Krakatau pada 1883 menjadi salah satu bencana vulkanik paling besar dalam sejarah, sementara pada 22 Desember 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau disertai longsoran sebagian tubuh gunung yang memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Karena itu, setiap peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian serius, terutama bagi masyarakat dan nelayan yang berada di sekitar Selat Sunda.
Masyarakat diminta:
• Tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius yang ditetapkan oleh otoritas.
• Nelayan agar memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api dan kondisi perairan sebelum melaut.
• Tidak menyebarkan informasi atau video yang belum diketahui sumber dan waktu pengambilannya.
• Segera mengikuti arahan petugas apabila terdapat perubahan kondisi maupun rekomendasi keselamatan.
Redaksi














